Gedung Batu Sam Poo Kong, Cagar Budaya Indonesia Perekat Persatuan Umat - GriyaSantun.com : Rumah Santunku

Breaking

Home Top Ad

Wednesday, November 20, 2019

Gedung Batu Sam Poo Kong, Cagar Budaya Indonesia Perekat Persatuan Umat

"Besok kita jadi jalan-jalannya yah?" tanya anak sulung, kami biasa memanggilnya : mas.
"Insyaallah jadi. Udah siap packingannya?" tanya ayah.
"Siaaap!!!" jawab duo krucil kami dengan serempak tanpa dikomando.

Sejak suami dinas di luar kota, saat suami pulang, seolah jadi jadwal jalan-jalan tak tertulis bagi anak-anak. Bisa dimaklumi, karena kalau ada ayahnya di rumah, jadi bisa jalan-jalan ke lebih banyak tempat :)

Si mas dan si adek, alhamdulillah sudah terbiasa menyiapkan bawaan mereka sendiri saat akan bepergian. Awal mulanya memang masih berantakan, kadang mainan dibawa, pernik-pernik yang gak perlu juga dibawa, sehingga bunda masih perlu ngecek bawaan mereka saat mereka sedang tidur. Ssttt...yang penting mereka tidak menyadari kalo bunda ngecek, yang mereka tahu : "mereka menyiapkan bawan mereka sendiri". Itu menjadi kebanggaan tersendiri bagi anak-anak ^_^

Hari yang dinanti pun tiba!
Senangnya lihat anak-anak semangat.
Bagi anak-anak, yang lagi senang-senangnya bereksplorasi, menjelajahi hal baru sangatlah menyenangkan. 
Anak-anak suka hal yang menyenangkan. Di balik kesenangan itu, mereka juga belajar.

"Kita udah sampai mana yah?".
Pertanyaan yang sering terdengar selama perjalanan, namun tak bosan didengar, karena melihat anak-anak yang sangat excited dengan perjalanan mereka!
Anak-anak semangat jalan-jalan ke Semarang

Serunya perjalanan, membuat jarak yang lumayan jauh antara Cepu-Semarang, sekitar 200km lebih, tidak begitu terasa. Dari jauh bangunan yang menjadi tujuan jalan-jalan kami sudah terlihat, bernuansa merah.

Gedung Batu Sam Poo Kong, Semarang

Gerbang Gedung Batu Sam Poo Kong | credit : goodpiknik.com

Ada banyak pilihan tempat wisata yang bisa dikunjungi. Namun yang tidak sekedar untuk berwisata/refreshing, yang bernilai pendidikan, bernilai sejarah, juga mengajarkan nilai-nilai pada anak akan contoh nyata, salah satunya adalah Gedung Batu Sam Poo Kong atau biasa juga disebut dengan Klenteng Sam Poo Kong, yang juga merupakan cagar budaya Indonesia.

Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di darat dan/atau di air yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan atau kebudayaan melalui proses penetapan. - UU no. 11 tahun 2010.
Sebelum memasuki area klenteng, pengunjung membeli tiket masuk


Gedung Batu Sam Poo Kong memiliki nilai sejarah yang sangat besar bagi dunia, masyarakat Indonesia, khususnya Semarang dan sekitarnya, terutama masyarakat Islam. 

Laksamana Sam Poo Kong atau Sam Poo Tay Jien, yang bernama asli Cheng Ho atau Zheng He, adalah pemimpin armada laut besar dari negeri Tiongkok, yang datang ke nusantara pada abad ke 14, adalah seorang muslim, dengan armada besarnya yang terdiri dari berbagai agama seperti kong hu cu, budha, taoisme dan islam. 

Armada laut yang sangat besar tersebut menjalankan perintah ekspedisi agung Kaisar Dinasti Ming untuk mengarungi dunia, mengabarkan ke seluruh penjuru dunia tentang keberadaan Tiongkok, untuk persahabatan, perdagangan, juga misi besarnya membuat peta dunia.   

Salah satu persinggahannya di nusantara adalah di kota Semarang. Persinggahan itu menjadi salah satu trigger menyebarnya agama islam dan khong hu cu di tanah Jawa. Islam yang kemudian meluas hingga ke berbagai wilayah di Indonesia, mempengaruhi pola hidup masyarakat, cara bercocok tanam, budaya, arsitektur, ilmu pengetahuan, juga asimilasi penduduknya serta toleransinya dalam beragama. Pun menjadi sejarah bagi kota Semarang, juga bagi sejarah Indonesia.

Kelenteng Sam Poo Kong Semarang berada di Jl. Simongan 129. Kelenteng ini semula adalah bekas petilasan Laksamana Cheng Ho. Dalam perjalanan berlayar beberapa awak kapalnya mengalami sakit, sehingga ia memerintahkan armadanya untuk singgah dan beristirahat sebentar di pelabuhan Simongan, di sebuah bukit batu yang terdapat gua, yang disebut Gedung Batu sebagai tempat beristurahat. Salah satu juru mudinya dimakamkan di Gedung Batu.

Gedung Batu itu juga ia pergunakan untuk tempat beribadah, baik yang beragama islam, khong hu cu, tao, juga budha. Terdapat peninggalan sebuah bedug, dengan tulisan di sisinya yang berbunyi "Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur'an". Menurut sebagian informasi, yang dibangun di Goa Batu adalah bangunan masjid, namun karena berarsitektur Tiongkok/Cina, sehingga bentuk bangunan mirip dengan klenteng.

Seiring berjalannya waktu, Gedung Batu tersebut berubah menjadi klenteng, tempat ibadah umat kong hu cu. Sampai saat ini, Gedung Batu tempat beribadah Laksamana Cheng Ho masih ada, namun karena bangunan klenteng yang semakin besar, Gedung Batu berada di dalam kompleks klenteng, yaitu di dalam bangunan utama dan aktif dipergunakan untuk ibadah umat kong hu cu, budha dan taoisme hingga saat ini.
Tulisan di atas pintu masuk Gedung Batu | credit : wikipedia.org
Pintu masuk Gedung Batu, di sisi kiri dan kanan bergambar relief perjalanan armada Cheng Ho | credit : hiveminer.com

PERSAUDARAAN & TOLERANSI 

Tak sekedar menjadi tempat wisata bersejarah, Gedung Batu Sam Poo Kong juga menjadi tempat peribadatan bagi umat Budha, Kong Hu Cu, dan Taoisme. Terdapat pula bangunan masjid di kawasan Sam Poo Kong karena laksamana Cheng Ho merupakan laksamana muslim yang dijuluki Haji Mahmud Shams. 

Untuk memasukinya pun, siapa saja, agama apa pun diperbolehkan memasuki Gedung Batu yang ada di dalam area utama Klenteng Sam Poo Kong. Namun, karena Gedung Batu dipergunakan untuk ibadah, maka untuk memasukinya, selain yang beribadah di sana diminta membayar tiket masuk.

Ssttt... tahukah kamu kalau Laksamana Cheng Ho juga disebut sebagai tokoh toleransi beragama?

Ini adalah salah satu bukti nyata yang tak terbantahkan, bahwa masyarakat kita dari jaman dahulu kala adalah masyarakat yang cinta damai, yang rukun, menjunjung persaudaraan antar suku dan ras, yang saling bertoleransi dalam kehidupan, termasuk dalam toleransi kehidupan beragama.
Patung Laksamana Cheng Ho di pelataran klenteng Sam Poo Kong | credit : wisata-kotasemarang.blogspot.com

SEJARAH NAMA SEMARANG

Dari mana asal kata Semarang? Ini juga merupakan bagian tak terpisahkan dari sejarah kisah persinggahan Laksamana Cheng Ho dan armadanya.

Masuknya agama islam di Jawa, salah satunya ditengarahi oleh kedatangan Laksamana Cheng Ho, terbukti dengan banyaknya sultan kerajaan islam dan wali yang merupakan orang/keturunan Tiongkok.  Sultan Demak, yang bernama Raden Fatah memiliki nama Jin Bun, Sunan Bonang yang bernama asli Bong Tak Ang, salah satu contohnya.

Daerah Semarang, dulu saat masa kerajaan Mataram kuno bernama Pragota/Bergota. Tahuu 1475 Raden Fatah berhasil menguasai Pragota, atau disebut Tan Mu dalam catatan Kitab Ying Yai Sheng Lang dan catatan Kronik Sampokong*

Setelah Pragota dikuasai Raden Fatah, Pragota dipimpin oleh seorang adipati bernama Raden Kusen (Tan Kin San), yang kemudian merubah nama Pragota menjadi Semarang*
Nama Semarang berasal dari kata Samarang / Samaren. 
SAM artinya tiga. 
MA artinya marga Ma (Ma Cheng Ho, Ma Hong Fu dan Ma Huan)
RANG/REN artinya orang yang dihormati.

Sehingga kata Semarang/Samaren berarti menghormati 3 orang bermaga Ma, atau 3 orang marga Ma yang sangat dihormati.
Perubahan nama Pragota menjadi Semarang merupakan wujud penghormatan atas jasa-jasa Laksamana Cheng Ho, Jenderal Ma Hong Fu dan Jenderal Ma Huan atas penyebaran /dakwah agama islam di tanah Jawa, juga mereka pernah sholat di masjid Sam Poo Kong (komplek Klenteng Sam Poo Kong sekarang).

Asal kata Semarang yang katanya berasal dari asem arang-arang (pohon asem yang jarang-jarang) merupakan plesetan atau rumor tanpa bukti pendukung sejarah.*

Patung Cheng Ho di pelataran klenteng
Prasasti di bawah Patung Laksamana Cheng Ho / Zheng He

PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

Begitu dalamnya nilai-nilai yang bisa diambil hikmah dari sebuah tempat bernama Gedung Batu Sam Poo Kong, kisah sejarah yang kaya akan makna dan kisah, juga yang menginspirasi. Besarnya manfaat yang didapatkan negeri ini dari peristiwa singgahnya Laksamana Cheng Ho di Semarang, yang dalam 7 kali perjalanannya melakukan ekspedisi pelayaran dunianya, 3 kali ia mampir ke nusantara. Pantas jika Gedung Batu Sam Poo Kong masuk dalam cagar budaya bangsa.

Sudah seharusnyalah kita sebagai penerus bangsa besar yang menghargai jasa pahlawan-pahlawan, bagian dari sejarah penting perkembangan negeri ini, untuk merawat, menjaga, melestarikan peninggalan mereka yang tersisa, yang sarat makna, yang mengingatkan kita semua akan perjuangan dan jasa-jasanya, untuk terus kita teladani.

Pentingnya cagar budaya yang satu ini, sehingga beberapa kali Klenteng Batu Sam Poo Kong mengalami renovasi, menurut Dinas Pariwisata Kota Semarang perbaikan tersebut diantaranya :

  1. Tahun 1724 Gua Batu terkena petir, sehingga dilakukan renovasi dan menambahkan emperan di depan gua.
  2. Tahun 1879 perbaikan diprakarsai dan dibiayai oleh hartawan Oei Tjie Sien (ayah Oie Tiong Ham). Setelah perbaikan, komplek dibuka untuk umum.
  3. Tahun 1937 perbaikan atas prakarsa Lie Hoo Soen komplek Sam Poo Kong dipugar kembali. Kali ini diadakan , dengan beberapa penambahan, yaitu gapura, taman suci dan selasar (Pat Sian Loh) yang menghubungkan Klenteng Sam Po dengan makam Kyai Jurumudi. 
  4. Tahun 1950 penambahan gapura baru dari beton, taman bunga di halaman belakang klenteng dengan dua buah paseban yang diberi nama Wie Wan Ting dan Tiang Lok Ting serta dua buah pat kwa ting (gasebo berbentuk segi delapan).
  5. Tahun 1980an diadakan penyempurnaan kembali komplek tersebut dengan mengutamakan gerbang klenteng dan ruang pemujaan lain, sarana akomodasi dan lain-lain.
Klenteng Sam Poo Kong saat direnovasi | credit : semarangtempodoeloe.blogspot.com


Kita adalah manusia biasa, manusia yang bisa lupa dan terlena. 
Saat kita lupa, peninggalan bersejarah mereka akan mengingatkan kita, siapa jati diri kita sesungguhnya. Bangsa yang besar, yang cinta damai, yang menjunjung tinggi persaudaraan, menjunjung keberagaman dalam kebersamaan. Bhinneka Tunggal Ika.

Sebagai wujud terima kasih kita pada mereka yang berjasa, wujud penghargaan kita pada mereka, bisa kita lakukan mulai dari sekarang. Turut menjaga kebersihan, kerapian dan keutuhan benda-benda yang berada di kawasan cagar budaya adalah salah satu wujud nyatanya. 


MENGUNJUNGI CAGAR BUDAYA BANYAK MANFAATNYA

Alhamdulillah, anak-anak kami sangat senang dengan jalan-jalan bernilai kali ini, mengunjungi cagar budaya bangsa. Kini sosok Laksamana Cheng Ho menjadi salah satu tokoh favorit mereka :)

Buku kisah hidup Laksamana Cheng Ho masuk dalam koleksi favorit kami.
Bangga rasanya ia menorehkan sebagian kisah & sumbangsihnya di bangsa kita, Indonesia
Di depan Klenteng Sam Poo Kong
Anak-anak kami, anak-anak mereka, anak-anak kita semua, adalah bagian dari masa depan bangsa ini. Jika mereka menemukan idola-idola sejati, sosok yang benar untuk dikagumi, orang-orang hebat yang memberi sumbangsih peradaban, maka negara ini menjadi negera yang hebat adalah soal waktu. Semoga.

Ingat Gedung Batu Sam Poo Kong, Klenteng Sam Poo Kong, ingat persatuan umat Indonesia!

Salam,
Zakia - GriyaSantun.com




Yuk kita jaga kelestarian cagar budaya bangsa, 
dengan berpartisipasi dalam "Kompetisi Blog Cagar Budaya Indonesia : Rawat atau Musnah!" 




8 comments:

  1. Seneng banget ya mba kalo anak2 antusias banget kalo diajak jalan2. Apalagi jalan2nya ke tempat yang ada nulai edukasinya, mengenal sejarah lebih dalam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, masa kanak-kanak semuanya terlihat menarik ya, pingin tahu semuanya. Makanya kalo mereka denger kata jalan-jalan, langsung semangat 45 deh:D

      Delete
  2. Replies
    1. bangunannya unik ya mbak, seperti di film2 kungfu ^-^

      Delete
  3. salah satu kota favorit saya adalah Semarang, karena salah satu simbol toleransi antar umat beragama terlihat nyata dengan beragamnya tempat ibadah di sana. Seru ya mbak, buat anak-anak jalan-jalan sambil belajar :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar mbak, seneng dan adeemmm di hati lihat kerukunan seperti itu. Indah :)
      Semoga berkesan bagi anak-anak dan bisa meneladani nilai2 yang di dapatkan dari jalan-jalan di sana :)

      Delete
  4. Udah sering ke Semarang tapi belum pernah kesini. Popular banget ya wisata ini

    ReplyDelete
    Replies
    1. ayo segera dijadwalkan berkunjung ke sini, bagus banget, baik pemandangannya juga nilai-nilainya :)

      Delete