[Book Review] Menak Jinggo : Sekar Kedaton - GriyaSantun.com : Rumah Santunku

Breaking

Home Top Ad

Tuesday, November 19, 2019

[Book Review] Menak Jinggo : Sekar Kedaton

Orang kepercayaan.
Apa yang ada di benakmu jika mendengar kata itu?

Seseorang yang dapat dipercaya?
Seseorang yang dapat diandalkan?
Seseorang yang bisa menjaga nama orang yang mempercayainya?
Pembisik?
dan sederet kalimat lainnya, yang mungkin akan muncul di pikiran.

Ya, mungkin ada banyak pendapat yang teman-teman dapatkan tentang kalimat "Orang kepercayaan" tersebut.
Yuk kita coba beri contohnya, siapa kira-kira orang yang mendapat label itu, contohnya :

Pasangan?
Khadimat/si mbak di rumah?
Sopir pribadi?
Asisten?
siapa lagi yaa? boleh temen-temen tambahin di kolom komentar ya :)

Tangan Kanan.
"Orang kepercayaan" ini biasanya disebut juga dengan "tangan kanan".
Entah mengapa demikian. Mungkin karena orang tersebut senantiasa berada di sekitar orang yang mempercayainya, sehingga seolah dimana ada orang itu di situ ada dia, alias sepaket! :D

Nah, sekarang baru ngomongin buku nih, buku seru pastinya!
Kalo gak seru, insyaallah gak bakal masuk ke review di sini hehehe.

Menak Jinggo!
Siapakah dia?
Berdasarkan kisah sejarah, orang ini nyata adanya.
Ia adalah keturunan dari raja Majapahit yang paling terkenal, yaitu Hayam Wuruk, dengan salah satu istrinya/selir, bukan dari permaisuri.

Karena itulah, beberapa hal seolah menjegal Menak Jinggo untuk dapat mewarisi tahta Majapahit, meskipun ia adalah anak lelaki Hayam Wuruk satu-satunya. Selain Menak Jinggo, Hayam Wuruk memiliki 1 orang anak lagi, anak perempuan, dari permaisuri, yang digadang-gadang paling pantas/sah mewarisi tahta ayahnya, yaitu Kusumawardhani.

Oiya, Menak Jinggo itu bukan nama asli anak laki-laki Hayam Wuwuk, itu sebenarnya lebih ke panggilan/julukan yang sebenarnya kurang disukai karena berkonotasi menghina/merendahkan. Nama asli Menak Jinggo adalah Wirabhumi.

Buku berjudul Menak Jinggo ini bukan buku sejarah, namun novel yang mengadopsi sejarah sebagai jalan ceritanya, dengan menambahkan beberapa hal yang membuat cerita lebih hidup, dengan tidak merubah garis besar sejarah aslinya.
Novel ini karangan Langit Kresna Hariadi, salah satu penulis besar yang juga salah satu favorit saya tentang novel-novel sejarah, selain Dan Brown.

Langit Kresna Hariadi memang identik dengan novel sejarah, beberapa novelnya yang lain, yang bikin saya tahan membaca meskipun bukunya tebal seperti bantal, yaitu novel Gajah Mada yang ada beberapa seri. Alhamdulillah seri Gajah Mada berhasil tamat dibaca :)
Cara bercerita dan detailnya yang membuat pembaca seolah ikut masuk ke dalam cerita dan membayangkan situasi cerita dengan cukup gamblang adalah salah satu keunggulan Langit Kresna Hariadi. Makanya meski buku novelnya tebal, gak bikin bosan yang baca. Malah jadi susah berhenti :D

perbandingan tebal novel Menak Jinggo vs komik Conan


Ok, kembali ke Menak Jinggo!

Isi dari cerita novel ini, jelas menceritakan tentang perebutan kekuasaan yang terjadi sebagai pengganti Hayam Wuruk, sebagaimana kisah aslinya. Yaitu perebutan kekuasaan antara Kusumawardhani dan Wirabhumi.

Namun, di novel ini, antara mereka berdua ini tidak ada masalah, sebenarnya mereka saling sayang sebagai sesama saudara dan saling dukung. Mereka berdua adalah orang-orang yang baik, yang tidak tergoda dengan kekuasaan. Namun orang-orang disekitar merekalah yang saling tarik-menarik agar yang mereka dukung berhasil menjadi pengganti Hayam Wuruk, beberapa caranya adalah dengan menghasut permaisuri, ibunda Kusumawardhani, dan kerabat kerajaan yang lain. Juga berbagai upaya yang secara tidak langsung menjauhkan Wirabhumi dari istana.

Perjodohan Kusumawardhani dan sepupunya sendiri, yaitu Wikramawardhana, juga merupakan bagian dari pengamanan kekuasaan, agar tahta jatuh ke tangan anak permaisuri. Senasib dengan Hayam Wuruk dulu, yang menikah dengan permaisuri, yang sebenarnya tidak lain adalah sepupunya sendiri.

Secara kemampuan, sosok Wirabhumi ditampilkan lebih sesuai sebagai pengganti Hayam Wuruk, dengan kondisi fisiknya yang kuat, kemampuan bertarungnya yang bagus, juga perhatiannya kepada rakyat, membuatnya pantas menjadi raja berikutnya yang bisa membawa Majapahit makmur.

Sedangkan sosok Kusumawardhani, sosok anak perempuan yang dipingit di dalam istana, yang tidak begitu tahu dunia di luar sana, yang menjadi korban kecemburuan ibundanya terhadap selir ayahnya, membuatnya menjadi sosok wanita yang bisa dibilang penurut, termasuk pada dayang / mbok emban yang merawatnya sejak kecil, yang sudah dianggapnya ibu. Kusumawardhani yang lugu.

Bagaimana Kusumawardhani berusaha melawan perjodohan itu, namun persekongkolan yang ada begitu rapat dan rumit, hingga membunuh pun tak jadi soal bagi mereka.

Celakanya, mbok emban ini bukanlah sosok yang baik, yang bisa menentramkan suasana, mendinginkan hati, mendamaikan yang berseteru. Justru sebaliknya! Kalau menurut saya, justru mbok emban inilah sosok utama dalam kisah novel ini. Sosok dayang, yang karena sudah dipercaya, menjadi orang kepercayaan permaisuri, hingga membuatnya berani melangkah terlalu jauh dari perannya, bahkan melebihi peran raja sekalipun!

Gemessss, pingin tak kruwes-kruwes mbok embannya :D

Tapi kalau sampai pembacanya ikut sebel, berarti penulisnya berhasil menyampaikan emosi ceritanya ke pembacanya yaaaaa. Hebat memang!

Oiya, jika mau membaca novel ini, sebaiknya saat weekend atau liburan, agar tidak mengganggu pekerjaan/aktivitas lainnya, karena seperti yang terjadi pada saya, begitu baca novel ini, jadi susah berhenti. Kan bahaya kalau lagi istirahat siang baca novel ini, terus saatnya balik kerja jadi gak konsen gara-gara masih ingin baca dan kepikiran novelnya :)

Novel Menak Jinggo paling endut  :D


Sekedar catatan pengingat yang bisa diambil dari hikmah cerita ini, diantaranya :
  1. mempercayai seseorang boleh, namun tetap kedepankan obyektifitas
  2. mencari kebenaran dari suatu berita, tetap perlu dilakukan, agar tidak salah langkah yang bisa merugikan diri sendiri juga orang lain, apalagi jika ia seorang pemimpin negara, bisa bahaya bagi negara
  3. percayai seseorang sesuai dengan porsinya, sesuai pekerjaannya
  4. terlalu percaya seseorang, hingga menutup mata pada kenyataan, membutakan hati dan pikiran
  5. jangan meletakkan kepercayaan hanya pada 1 orang, agar kita sendiri tidak dipermainkannya
  6. ada yang mau nambahin?

Salam,
Zakia - GriyaSantun.com










No comments:

Post a Comment